Desa Margagiri, Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang, mendadak menjadi sorotan internasional. Sebuah rombongan tamu dari lima negara—Thailand, Filipina, Papua Nugini, Kenya, dan Kamboja—menyambangi desa yang berada di tepian kawasan industri tersebut. Bukan untuk berwisata, melainkan untuk belajar.
Kepala Desa Margagiri, Ruhul Amin, ST, mengaku sempat terkejut menerima kabar kunjungan itu. Ia tak menyangka desa yang selama ini bergulat dengan persoalan lingkungan justru menjadi rujukan praktik ketahanan iklim.
“Terus terang kami juga kaget. Kenapa harus Desa Margagiri? Tapi setelah dijelaskan, ternyata mereka ingin melihat langsung bagaimana upaya ketahanan iklim yang dilakukan pemerintah desa bersama masyarakat,” kata Ruhul Amin kepada Wilip.id, Rabu, 21 Januari 2026.
Margagiri memang berada di wilayah yang paradoks. Di satu sisi, ia ditetapkan sebagai zona industri oleh pemerintah pusat dan daerah. Di sisi lain, desa ini masih bergantung pada kualitas lingkungan: air, tanah, dan ruang hidup warga.
Masuknya kawasan industri membawa konsekuensi. Perubahan iklim mikro terasa nyata. Genangan air, banjir musiman, hingga menurunnya kualitas lingkungan menjadi problem sehari-hari.
“Lingkungan yang tadinya relatif baik, sekarang berubah. Tapi kami tidak bisa menolak industrialisasi. Yang bisa kami lakukan adalah beradaptasi agar masyarakat tetap bisa hidup layak,” ujar Ruhul.
Alih-alih pasrah, pemerintah desa bersama warga memilih bergerak. Di gang-gang sempit, lubang biopori dibuat. Di lahan-lahan padat, sumur resapan digali. Di titik rawan banjir, sodetan air diperbanyak agar aliran tidak tersumbat.
Langkah-langkah itu mungkin tampak sederhana. Namun justru dari praktik kecil itulah lahir ketahanan iklim berbasis komunitas.
“Dulu banyak titik genangan. Sekarang jauh berkurang. Bukan hilang sepenuhnya, tapi bisa diantisipasi,” kata Ruhul.
Bagi para tamu mancanegara, pendekatan Margagiri dinilai menarik karena tidak bergantung pada proyek besar atau teknologi mahal. Semua dilakukan dengan gotong royong dan partisipasi warga.
Menurut Ruhul, berdasarkan penuturan penerjemah, para delegasi mengaku terkesan dengan keterlibatan langsung masyarakat desa.
“Mereka puas. Bukan hanya dengan konsepnya, tapi dengan semangat warganya. Mereka melihat bagaimana masyarakat menjawab perubahan iklim dengan cara yang realistis,” ujarnya.
Kunjungan ini menjadi semacam diplomasi lingkungan dalam skala mikro. Desa kecil di Serang berbicara kepada dunia tentang adaptasi, ketahanan, dan keberlanjutan.
Bagi Ruhul, yang paling penting bukanlah sorotan internasionalnya, melainkan dampaknya bagi warga sendiri.
“Harapan kami sederhana. Masyarakat semakin sadar pentingnya menjaga lingkungan dan tetap kompak. Kalau desa kuat, perubahan apa pun bisa kita hadapi,” katanya.
Di tengah tekanan industrialisasi dan krisis iklim global, Margagiri memberi pesan sunyi namun tegas: perubahan tidak selalu datang dari pusat kekuasaan. Kadang, ia lahir dari gang-gang kecil, lubang biopori, dan kerja kolektif warga desa.